S1 Seni Rupa Telkom University

06 Jan MENGENALKAN PRAKTIK SENI RUPA KONTEMPORER MELALUI LOKAKARYA SENI LUKIS BERSAMA SISWA SMAN 10 BANDUNG

Di tengah derasnya arus visual digital dan budaya populer, pendidikan seni rupa di tingkat sekolah menengah masih sering dipahami secara terbatas. Seni lukis kerap direduksi menjadi aktivitas teknis menggambar—meniru objek, mengisi warna, dan mengejar kerapian visual—tanpa disertai pemahaman konseptual maupun konteks seni rupa masa kini. Padahal, seni lukis memiliki potensi besar sebagai medium berpikir, berekspresi, dan membangun identitas kolektif. Kesadaran inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pengenalan seni lukis kontemporer berbasis praktik dan riset partisipatoris di SMAN 10 Bandung.

Kegiatan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara perkembangan seni rupa kontemporer dan praktik pembelajaran seni budaya di tingkat SMA. SMAN 10 Bandung dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi kreatif siswa yang kuat serta lingkungan akademik yang mendukung eksplorasi seni. Dalam program ini, seni lukis tidak diposisikan semata sebagai aktivitas estetik, melainkan sebagai proses berpikir visual yang melibatkan riset sederhana, diskusi, dan kerja kolektif.

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatoris dengan melibatkan mahasiswa seni rupa sebagai fasilitator dan siswa SMAN 10 Bandung sebagai partisipan utama. Mahasiswa berperan sebagai pendamping proses kreatif, bukan sebagai pengajar satu arah. Siswa diajak untuk aktif merumuskan gagasan visual mereka sendiri melalui pengenalan konsep dasar seni lukis kontemporer dan eksplorasi visual berbasis riset sederhana.

Riset yang dilakukan siswa berangkat dari konteks terdekat mereka, seperti identitas sekolah, karakter siswa, serta nilai-nilai simbolik yang merepresentasikan pengalaman kolektif di lingkungan SMAN 10 Bandung. Melalui pendekatan ini, siswa mulai memahami bahwa melukis bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan proses yang melibatkan observasi, refleksi, dan perumusan makna. Seni lukis dipahami sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, bukan hanya menghasilkan gambar yang indah secara visual.

Salah satu bentuk konkret dari kegiatan ini adalah perancangan dan pembuatan maskot sekolah melalui media lukis. Maskot dipilih karena dekat dengan dunia remaja dan memungkinkan eksplorasi simbolik yang luas. Dalam proses penciptaannya, siswa terlibat dalam diskusi, negosiasi, dan pengambilan keputusan visual secara kolektif—mulai dari karakter tokoh, warna, gestur, hingga latar cerita. Proses ini menjadikan kegiatan melukis sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran sosial.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan cara pandang siswa terhadap seni lukis. Jika sebelumnya seni dipahami sebagai aktivitas estetis semata, melalui program ini siswa mulai melihat seni lukis sebagai medium ekspresi gagasan dan identitas bersama. Karya maskot yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan kemampuan teknis, tetapi juga cara siswa memaknai lingkungan sekolah dan pengalaman belajar mereka.

Kegiatan pengabdian ini memperlihatkan potensi pengembangan pembelajaran seni rupa di tingkat SMA melalui integrasi praktik seni lukis kontemporer yang kontekstual dan berbasis riset. Lebih dari sekadar menghasilkan karya, program ini menegaskan peran seni lukis sebagai ruang belajar yang partisipatoris, reflektif, dan relevan dengan dinamika seni rupa masa kini.

No Comments

Post A Comment